Semporna, Sabah — 28 Juli 2025 menjadi momentum berharga bagi anak-anak di Kampung Limau-Limau, Pulau Bait, saat tiga mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menjalankan pengabdian melalui program KKN Internasional.
Mereka adalah Shobiha Najmi Usyana dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Dina Rahmawati dari Tadris Bahasa Inggris (TBI), dan Afnia Nur Khasanah dari Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Bertempat di sebuah sekolah lokal yang tidak berstatus resmi, mereka mengajar berbagai mata pelajaran, mulai dari mengaji, akidah, ibadah, tajwid, berhitung, hingga bahasa Melayu.
Dalam sesi pembelajaran, Shobiha Najmi Usyana melakukan pengujian terhadap pemahaman anak-anak tentang angka dalam bahasa Arab. Hasilnya cukup mengejutkan—sebagian besar belum mengenal ataupun menghafalnya. Menanggapi hal tersebut, Shobiha mengambil langkah strategis dengan menjalankan misi khusus: mewajibkan pelajar untuk mengulang pembacaan angka Arab setiap hari secara konsisten agar terekam lebih dalam di ingatan mereka.
Tidak berhenti di sana, demi menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menggugah semangat, ia pun menggunakan lagu dalam angka angka Arab yang mudah diikuti dan dihafalkan oleh anak-anak. “Dengan lagu, angka tidak terasa seperti beban pelajaran, tapi jadi bagian dari permainan yang dinanti-nanti,” jelas Najmi.
Kondisi anak-anak ini tak lepas dari realitas sosial yang kompleks. Sebagian dari mereka tidak diperbolehkan bersekolah di institusi resmi negara akibat ketiadaan dokumen identitas seperti card pengenalan diri dan sijil kelahiran. Hambatan ini banyak dialami oleh anak-anak hasil pernikahan lintas negara, seperti antara warga Filipina dan masyarakat Sabah.
Di sisi lain, kendala ekonomi juga menghambat upaya pengurusan dokumen maupun akses pendidikan. Namun demikian, semangat belajar anak-anak di Pulau Bait tetap menyala. Mereka dengan gembira mengikuti pembelajaran selama 8 jam setiap hari, dan sebagian besar telah mampu membaca dan menulis dengan baik.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan rasa empati, keceriaan, dan harapan bagi generasi muda di wilayah pesisir. Harapannya, sinergi antara kampus dan masyarakat dapat terus berlanjut, membuka ruang pendidikan yang inklusif dan bermartabat bagi semua.